Dalam penggunaan sejarah dan modern, tungku api adalah sebuah tempat api yang digarisi batu atau bata, dengan atau tanpa sebuah oven, yang digunakan untuk memanaskan dan aslinya juga digunakan untuk memasak makanan. Selama berabad-abad, tungku api merupakan bagian dalam dari sebuah rumah, yang biasanya berada di ruangan paling penting atau bagian tengahnya.
Pada Abad Pertengahan, tungku api secara umum diletakkan di tengah balai, dengan asap yang berada di ruangan tersebut dibawa oleh cerobong asap menuju ke atap.
Pada zaman Kekaisaran Romawi Timur, sebuah pajak terhadap tungku api yang dikenal sebagai kapnikon secara eksplisit pertama kali disebutkan pada masa pemerintahan Nikeforus I (802–811). Kapnikon adalah sebuah pajak yang ditujukan pada rumah tangga tanpa pengecualian bagi kaum miskin.[1]
Agama
Dalam mitologi Yunani, Hestia adalah dewi tungku api, sementara dalam mitologi Romawi, Vesta memiliki peran yang sama.[2]
Di Persia kuno, menurut tradisi Zoroastrian, setiap rumah diwajibkan untuk memiliki tungku api untuk upacara keramat dan pendoa.[3]